Artikel Terkini
recent

Kekejaman KAUM KOMUNIS MENYISAKAN ISAK TANGIS

Kekejaman KAUM KOMUNIS MENYISAKAN ISAK TANGIS

Kedamaian adalah dambaan semua. Ketenangan adalah harapan bersama. Tenang dalam bekerja. Damai dalam setiap aktivitasnya. Dan lebih daripada itu, tenang beribadah kepada Sang Pencipta, leluasa ketika menjalani titah utama penciptaan manusia.
Pembaca rahimakumullah, akhir-akhir ini, kebangkitan Komunisme semakin tampak jelas dan nyata. Banyak indikasi kuat yang menunjukkannya. Mulai dari kemunculan logo palu arit, buku dan majalah pro-PKI, berbagai seminar hingga upaya pencabutan Tap MPRS No. XXV/MPRS/1966 yang melarang Partai Komunis Indonesia (PKI) dan ajaran Komunisme/Marxisme/Leninisme.
Tentu, kita tidak ingin terjebak pada polemik politik, siapa yang benar dan yang salah. Namun, kita hanya akan melihat ajaran Komunisme dari kaca mata Islam dan kebangsaan. Bagaimana Islam memandang?
Sikap apa yang seharusnya ditempuh seorang muslim?
SEJARAH KOMUNISME
Paham Komunisme dicetuskan oleh Karl Marx, warga Jerman keturunan Yahudi. Bersama Frederick Angel, melalui tulisan berjudul Manifest der Communistischen teori-teori Komunisme dibukukan. Secara umum, paham komunisme adalah paham menuntut persamaan, tidak ada kaya, tidak pula miskin, hak milik pribadi tidak diakui, semuanya milik bersama. Materi menjadi asas segalanya. Paham ini lalu dikembangkan Lenin, sehingga dikenal sebagai Marxisme-Leninisme. Melaluinya, komunisme disebarkan dengan kekerasan ke belahan dunia, termasuk Indonesia.
TOKOH KOMUNIS
Sekali lagi, untuk menggambarkan ajaran Komunisme, kita akan menilik biografi tokoh sentral mereka. Tokoh akan mewarnai pengikutnya. Sebab, mereka dijadikan teladan dan panutan.
Karl Marx (Jerman, 1818–1883)
Marx dikenal tidak beragama. Disertasinya yang berjudul The Difference between The Natural Philosophy of Democritus and Epicurus (1841) jelas menunjukkan dirinya sangat anti-agama. Hal ini membuat Marx dicap sesat dan dijauhi rekan-rekannya. Marx pernah berucap, “Eksistensi tuhan tidak masuk akal. Tuhan adalah konsep yang menjijikkan. Aku menaruh dendam kepada apa saja yang namanya tuhan.” Masih kata Marx, “Agama adalah racun narkoba bagi masyarakat. Menghujat agama adalah syarat utama dari segala hujatan.” Sikap Marx yang sombong dan otoriter, membuat semua kawan tidak mempedulikannya. Ia juga dikenal sebagai seorang yang egoistis, tidak punya prinsip, pendendam dan materialistis. Marx seorang pengangguran, malas bekerja dan banyak mengkhayal. Di mata keluarga, Marx identik dengan anak durhaka. Ketika ayahnya meninggal, ia tidak mau menghadiri pemakamannya. Bahkan, semua hutang Marx dibebankan kepada ibunya yang sudah menjanda dan berusia tua.
Lenin (Rusia, 1870-1924)
Lenin juga dikenal sebagai penggagas Komunisme. Ia melakukan revolusi berdarah di Rusia tahun 1917. Lenin seorang diktator yang amat ditakuti. Ia berhati kejam, suka memaksakan pendapat dan pendendam. Lenin berkata, “Kaum komunis tidak percaya agama. Di tengah revolusi ini, yang perlu adalah membelah tengkorak, menjalankan keganasan, dan berjalan dalam lautan darah. Tidak masalah jika tiga perempat penduduk dunia habis, asalkan yang seperempat sisanya adalah komunis. Untuk melaksanakan komunisme, kita tidak gentar berjalan di atas mayat 30 juta orang.”
Stalin (Rusia, 1879 – 1954)
Dia terkenal bengis, kejam, sadis, diktator, dan keras kepala. Dalam menyingkirkan lawan-lawannya Stalin melakukan pembantaian, pembunuhan, dan pembuangan. 30 juta penduduk Rusia dan sekitarnya dibunuh atas perintah Stalin, termasuk istrinya sendiri. Stalin juga telah membantai 28 uskup, 50 ribu pendeta, 800 ribu muslim pada tahun 1942. Tidak cukup itu, 90 ribu gereja dan 25 ribu masjid juga menjadi sasaran penghancuran. 90 persen gereja dan 99 persen masjid dimusnahkan oleh Stalin. Pembaca, tiga tokoh sentral di atas menginspirasi para tokoh komunis di dunia, seperti Tiongkok, Vietnam, Korea Utara, Kuba, Laos, Cekoslowakia, Hongaria, Bulgaria, Polandia, Jerman, Rumania, Yugoslavia, Albania, dan Indonesia. Mao Zedong (China), Fidel Castro (Kuba), Adolf Hitler (Jerman), Mussolini (Italia), Che Guevara (Meksiko), Muso (Indonesia), DN Aidit (Indonesia), adalah para tokoh komunis di belahan dunia yang pemikiran, sikap, watak dan ajarannya tidak jauh berbeda dari tiga tokoh sentral komunis di atas.
AJARAN KOMUNISME
Berikut ini paparan sebagian ajaran komunisme. Mari kita renungi, apakah ajaran tersebut sejalan dengan Islam yang rahmatan lil ‘alamin ataukah tidak.
Ateisme dan Anti-Agama
Dalam komunisme diajarkan bahwa tidak ada tuhan, tidak ada pencipta. Semua ada dengan sendirinya. Kehidupan ini hanyalah materi saja, atau perpindahan dari satu materi ke materi lain. Agama dianggap sebagai candu yang memabukkan karena berisi khayalan. Bagaimana menurut Islam? Tentu, ajaran ini sangat bertentangan dengan Islam. Secara fitrah dan naluri saja, seluruh makhluk mengakui adanya Pencipta. Mustahil, makhluk dan alam semesta ini ada dengan sendirinya. Allah berfirman (artinya),
Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?…” (ath-Thur: 35-36)
Makna ayat di atas, manusia tidak mungkin ada dengan sendirinya. Manusia juga tidak mungkin menciptakan diri mereka sendiri sebagaimana mereka tidak mampu menciptakan langit dan bumi. Ayat di atas menegaskan bahwa seluruh makhluk itu ada penciptanya, yaitu Allah.
Dengan begitu, kaum komunis lebih kafir daripada Yahudi, Nasrani dan kaum musyrikin sekalipun. Yahudi, Nasrani dan Musyrikin masih mengakui adanya tuhan. Sedangkan bagi komunis tidak ada tuhan. Allahu akbar. Sekedar mengakui Allah sebagai pencipta alam semesta saja, tanpa beribadah kepada-Nya, kekal di neraka. Lalu bagaimana dengan yang sama sekali tidak mengakui adanya pencipta?
Janji Palsu Komunis
Ajaran sama rasa sama rata cukup ampuh menarik simpati rakyat jelata. Mereka meneriakkan persamaan hak bagi kaum papa. Namun, apakah faktanya demikian? Ternyata dusta. Rakyat jelata hanya sebatas kuda tunggangan. Faktanya, para petinggi komunis hidup mewah, sedangkan rakyat jelata tetao menderita. Sama rasa sama rata sekedar jargon. Ia tak ubahnya senjata untuk mengelabui buruh dan petani. Di Indonesia, PKI bersemboyan serupa untuk menarik massa. Rupanya semboyan ini tak seindah yang didengungkan. Kelas pekerja tetap merasakan penderitaan. Sementara, petinggi partai dalam kemewahan. Kesenjangan hidup yang demikian timpang antara tokoh komunis dengan pengikutnya bisa disaksikan di Rusia dan Negara komunis lain. Di Yugoslavia. pemimpin komunis Joseph Broz Tito, memiliki kapal pesiar mewah dan megah, panjangnya 117 m. Kapal ini adalah simbol kemewahan pemimpin komunis Yugoslavia. Di China, Mao yang mengagung-agungkan diri melayani rakyat ternyata juga hidup dalam kemewahan luar biasa. Mao punya puluhan vila tersebar di penjuru China dengan fasilitas dan pemandangan eksotis. Biaya pembuatan satu kolam renang tak kurang dari 50 ribu Yuan. Padahal di China, korupsi di atas 10 ribu Yuan sudah dipastikan akan dihukum mati. Begitu juga makanannya. Di tengah mayoritas masyarakat yang masih lapar, makanan Mao disiapkan secara khusus. Ikan khusus didatangkan hidup-hidup dari Wuhan yang jaraknya 1000 KM. Begitu juga dengan teh, susu dan sayur-sayuran. Ternyata di balik sandal dan bajunya yang bertambal, ketua Mao memiliki gaya hidup mewah seperti itu. Bukankah ini hanya kamuflase dan penipuan terhadap kaum proletar? Di Indonesia, DN Aidit memiliki alat-alat elektronik mewah yang hanya dimiliki oleh orang-orang kaya saja di masa itu. Padahal, kaum buruh dan petani miskin Indonesia di masa itu dalam keadaan memprihatinkan. Jangankan memiliki alat elektronik, untuk makan satu hari saja mereka belum tentu punya. Sementara dalam Islam, hak milik pribadi diakui. Kekayaan orang kaya dihormati dan hak-hak orang miskin diperhatikan. Syariat zakat, sedekah, infak, hibah, hadiah dll adalah ajaran Islam yang memperhatikan hak sesama.
Komunis=Sadis dan Anarkis
Sejarah tidak bisa berdusta. Tokoh agama menjadi korban. Eksistensi dan persatuan negara dipertaruhkan. Berkali-kali upaya pemberontakan dilancarkan. Puncaknya, putra-putra terbaik bangsa berguguran. Saksi bisu lubang buaya tidak bisa didustakan. Demikianlah sejarah komunis dunia maupun Indonesia. Semboyan, “Pondok bobrok, langgar bubar, santri mati” selalu mereka teriakkan. Rebut kekuasaan sekalipun dengan mengorbankan rakyat, ungkap Stalin dan selainnya.
KESAKSIAN-KESAKSIAN
Keganasan PKI tidak terhitung bilangannya. Pelecehan, penyiksaan, pemerkosaan, pembunuhan, penghinaan terhadap al-Qur’an adalah hal biasa bagi mereka. Banjir darah oleh PKI terjadi di berbagai daerah. Menurut Taufik Ismail, selama kurun waktu antara 1917-1991, partai komunis telah membantai, menjagal dan membunuh 120 juta manusia di 76 negara. Sehingga, rata-rata ada 4500 orang dibantai setiap harinya selama 74 tahun. Na’udzubillah. Di Indonesia, berbagai daerah di Madiun, Cepu, Ngawi, Magetan, Banyuwangi, dan kota-kota lainnya, adalah saksi yang tidak pernah berdusta terhadap kekejaman PKI. Tidak tercatat lagi, berapa jumlah korban PKI. Lubang pembantaian untuk mengubur hidup-hidup digali di sana-sini. Pesantren-pesantren menjadi sasaran. Semua itu dilakukan dengan begitu sadis, dengan menggunakan tangan-tangan kaum buruh, petani dan orang-orang miskin. Nas`alullaha assalaamah wal’afiyah.
DENGAN APA KOMUNISME DIHADAPI?
Pembaca, menghadapi komunisme harus dengan ilmu dan amal shalih. Memperkuat akidah kemudian bergandeng tangan dengan pemerintah/TNI/Polri adalah langkah yang tepat. Emosi kaum muslimin tidak boleh terpancing. Sikap hikmah, ilmiah dan jauh dari anarkisme harus dikedepankan. Semoga Allah menjaga NKRI dari rongrongan musuh mereka. Kita berdoa agar kaum muslimin selalu mendapatkan perlindungan dan pertolongan dari Allah. Amin ya Rabbal ‘alamin. Wallahu a’lam.
Penulis: Ustadz Abu Abdillah Majdiy
http://buletin-alilmu.net/2016/08/13/kekejaman-kaum-komunis-menyisakan-isak-tangis/

Tidak ada komentar: