Artikel Terkini
recent

”Teror, Teroris, dan Terorisme”, Sebuah Tinjauan Bahasa

Benarkah tuduhan sejoli ini bahwa yang menggunakan kata “teroris” itu merupakan bukti sedang membeo, latah, dan taklid kepada orang-orang luar? Bukanlah suatu hal yang menyenangkan bila kita terpaksa “harus” membuka kamus dan rujukan yang berkaitan dengan bahasa Indonesia hanya untuk “menguji dan membuktikan” benar tidaknya tuduhan tersebut. Justru ketika kata “teroris” dicap sebagai bukti membeo, taklid, dan latah dengan orang luar, maka mengembalikan permasalahan ini kepada Literatur Bahasa Indonesia yang resmi dan diakui adalah suatu hal yang tak terelakkan. Penukilan ini sama sekali bukan merupakan bukti tazkiyah terhadap referensi-referensi yang ada, hanya saja ketika istilah “teroris” dipermasalahkan, disalahartikan dan disalahgunakan untuk menuduh yang tidak-tidak maka tidak bisa tidak “teroris” haruslah dikembalikan ke “habitatnya” yang sesungguhnya!!


>Kamus Besar Bahasa Indonesia:
te.ror/teror/n usaha menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman oleh seseorang atau golongan;
me.ne.ror v berbuat kejam (sewenang-wenang dsb) untuk menimbulkan rasa ngeri atau takut: mereka ~rakyat dng melakukan penculikan dan penangkapan
te.ro.ris/teroris/n orang yang menggunakan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut, biasanya untuk tujuan politik: gerombolan –telah mengganas dng membakar rumah penduduk dan hasil panen
te.ro.ris.me/terorisme/n penggunaan kekertasan untuk menimbulkan ketakutan dl usaha mencapai tujuan terutama tujuan politik; praktik tindakan teror.” (hal.1185, Edisi Ketiga, Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Balai Pustaka, Jakarta, 2002)
Penting untuk diketahui bahwa buku Kamus Besar Bahasa Indonesia pertama kali dicetak pada tahun 1988.

>Kamus Umum Bahasa Indonesia:
teror/teror (Lt. terror) perbuatan yang menimbulkan kekacauan, tetapi juga menakutkan karena dilakukan dengan kekerasan
meneror, berbuat sesuatu yang menimbulkan kekacauan dan ketakutan karena tindakan-tindakan kekerasan: kaum pengacau ~rakyat dengan membakar rumah-rumah mereka
teroris/teroris, orang yang melakukan pekerjaan teror: ~mempengaruhi rakyat untuk menentang pemerintah yang sah, tetapi usaha mereka sia-sia.
Terorisme/terorisme/n , perbuatan dengan kekerasan yang menimbulkan kekacauan dan ketakutan kepada rakyat, terutama berlatar belakang politik.” (hal.1494, Prof.Dr. J.S. Badudu, Prof. Sutan Mohammad Zaeni, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 2001)

>Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer:
teror 1.perbuatan/tindakan yang sewenang-wenang 2.usaha menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman seseorang atau suatu golongan. Teror yang dilakukannya menggemparkan penduduk.
teroris/teroris/n orang yang menggunakan kekerasan atau ancaman untuk menimbulkan rasa takut, biasanya untuk tujuan politik. Para teroris mengancam akan membunuh semua penumpang pesawat yang sedang mereka bajak jika tuntutan mereka tidak dipenuhi.
Terorisme/terorisme, penggunaan kekerasan atau ancaman untuk menurunkan semangat, menakut-nakuti dan menaklukkan, terutama untuk tujuan politik.” (hal. 1604-1605, Drs. Peter Salim M.A., Yenny Salim BSc., Modern English Press, Jakarta, 1995).

>Kamus Hukum :
terorisme diartikan sebagai perbuatan jahat yang umumnya ditujukan kepada negara, yang tujuannya menakut-nakuti orang tertentu, kelompok-kelompok tertentu ataupun masyarakat tertentu untuk tujuan politik.” [Andi Hamzah, Ghalia, 1986, Jakarta, hal. 581].

>Kamus Umum Belanda-Indonesia:
terroris’me o terorisme : cara menakut-nakuti; dengan perbuatan kejam
terrorist’m ~en teroris: orang yang menakut-nakuti dengan perbuatan kejam.” (hal.666, Prof. Drs. S.Wojowasito, 1978, Penerbit Ikhtiar Baru-Van Hoeve)

>Kamus Praktis Bahasa Indonesia:
teror: perbuatan (pemerintah dsb) yang sewenang-wenang (kejam, bengis, dsb)
teroris: orang yang menggunakan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan, biasanya u tujuan politik (hal.164, Drs. Hartono, Penerbit Rineka Cipta, 1996)

>Kamus Sinonim Bahasa Indonesia:
Teror, kebengisan, kekejaman (cetakan ke ix, 1989, cetk pertama th 1974, Penerbit Nusa Indah, Flores, NTT)

>Kamus Kata Serapan:
teror kb (Bld.terreur/Ing.terror <Prc.terreur <Ltn. Terrorem<terrere.
Menakuti/menakutkan +pbt kb –orem hal, keadaan, orang (Ing=~or) 1.perasaan takut yang hebat 2.usaha untuk menciptakan ketakutan/kengerian/kekejaman oleh sso. Atau golongan.
Teroris kb (Bld. Teroristen)/Ing. Terrorist <Prc.-iste <Ltn. –ista <Yun. –istes <kk izo “(melakukan/mengerjakan) orang/golongan yang melakukan terror, kh terhadap masyarakat.
Terorisme, tindakan, penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha=usaha mencapai tujuan (terutama tujuan politik).” (hal. 624-625, Surawan Martinus, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2001)

>Di dalam buku Daftar Kumulatif Istilah, Hasil Sidang Majelis Bahasa Indonesia-Malaysia 1974-1981, M-Z yang diterbitkan oleh Pusat Pembinaan Dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Jakarta, 1985 , halaman 267 menyatakan bahwa istilah asing:Terrorism telah masuk secara sah menjadi istilah Indonesia :Terorisme!!

Silakan diperhatikan bahwa tahun keputusan yang tercantum di literatur-literatur istilah “teroris” di dalam bahasa Indonesia di atas –sebagian besarnya- jauh sebelum Amerika dan sekutunya menyalahgunakan istilah “teroris” setelah kasus WTC 2001!! Tentulah istilah tersebut belum terkontaminasi oleh “polisi dunia”.Terbitan tahun 1974 misalnya, yang ketika itu Muhammad Arifin masih berumur sekitar 2 atau 3 tahun ternyata istilah “teroris” sudah dipakai dan digunakan secara sah di dalam bahasa Indonesia!! Adapun Firanda? Tentu beliau ketika itu belumlah lahir ke dunia ini. Kedua, ternyata istilah “teroris” memiliki makna yang luas, penamaannya tidak terbatas hanya kepada satu agama/individu ataupun kelompok tertentu. Tentunya beliau-beliau ini mengetahui bahwa hampir semua istilah yang ada dapat disalahgunakan oleh siapapun, untuk kebaikan maupun untuk keburukan.

Kalau mereka menyatakan bahwa istilah “teroris” hingga saat ini tidak pernah disepakati masyarakat internasional, memiliki makna yang ambigu dan bermacam-macam, hendaklah beliau-beliau itu menghargai keilmuannya dengan menopang ucapannya bersama bukti dan literatur yang nyata!! Kalau tidak…. bukankah lebih terhormat bagi beliau-beliau itu, sebelum menuduh orang lain membeo, taklid dan latah terhadap istilah tertentu di dalam bahasa Indonesia agar lebih dulu membuka dan mencari di kamus-kamus bahasa yang akan digugatnya agar tuduhannya lebih terarah, lebih mantap dan lebih mengena jika tidak ingin “bernasib” seperti sebuah pepatah…

Bisul, cepat atau lambat akan pecah
atau pepatah lainnya…
Ekor kambing tiada dapat menutupi pantatnya sendiri

Wallahu a’lam, tampaknya dua sejoli tersebut belumlah bisa membedakan antara “teroris” sebagai suatu istilah yang memiliki definisi dan makna tertentu dengan “teroris” sebagai suatu istilah yang disalahgunakan demi kepentingan negara/agama/individu/kelompok tertentu untuk memberikan tuduhan dusta dan jelek kepada negara/agama/individu/kelompok lainnya yang sebenarnya tidaklah layak untuk menerima tuduhan dusta tersebut.
Pisau dapur” tentulah memiliki makna dan definisi tertentu dari sudut pandang siapapun dan dari agama apapun, digunakan untuk memasak dan adapula yang menyalahgunakannya untuk melakukan kejahatan (na’udzubillah). Untuk apapun dan dengan cara bagaimanapun orang menggunakan “pisau dapur”, tetaplah makna dan definisi “pisau dapur” sebagaimana asalnya. Jangan karena orang yang memegangnya menyalahgunakan “pisau dapur” untuk suatu tindak kejahatan dan kekejaman maka istilah “pisau dapur” yang dikambinghitamkan! Demikian pula istilah-istilah lainnya.

Jadi kalau sejoli ini masih tetap menggugat penggunaan kata “teroris” yang merupakan asal kata dari “terorisme” yang sudah disahkan penggunaan istilah Indonesia-nya oleh pemerintah Indonesia maka sebaiknya tuduhan tersebut “diteruskan” bahwa pemerintah RI-lah yang paling bertanggung jawab atas tindakan membeo, taklid dan latah kepada orang-orang luar!! Tidaklah bijaksana jika hanya ustadz Luqman -yang menulis bukunya dengan bahasa Indonesia- yang dipersalahkan. Bukankah anda sekalian yang menuntut kita semua harus bijaksana? Ataukah sikap bijaksana itu hanya anda perjuangkan untuk para “teroris” yang mengaku dengan bangganya telah melakukan pengeboman dan pembunuhan atas nama Islam dan Jihad? Kalau sejoli ini memang tidak setuju dengan “teroris” bukankah jauh lebih mulia jika mereka membongkar kedok “teroris”nya seperti yang dilakukan oleh ustadz Luqman ketika membantah Imam Samudra al-Khariji dan “ulama-ulama” panutannya daripada hanya sekedar mempermasalahkan sebuah kata “teroris”?
Kenapa sekian tahun ini diam dari buku racun pengkafiran dan bombing Imam Samudra yang dilemparkannya ke masyarakat muslimin Indonesia? Dan ketika Abu Abdirrahman al-Thalibi, Fauzan NII, Halawi NII, PKS dan Abduh ZA serta Abdullah Hadrami As-Sururi bersama-sama menyerang buku bantahan ustadz Luqman terhadap Imam Samudra Al-Khariji tiba-tiba merekapun ikut bangkit menyerang beliau?! Allahul Musta’an.

Jika sejoli ini “sedikit” saja mau belajar tentang kata dan istilah bahasa Indonesia yang selama ini digunakannya, tentulah mereka akan mengetahui “betapa sedikitnya” kosa kata yang benar-benar asli berasal dari bahasa Indonesia sehingga menjadi bukti kuat bagi sejoli ini untuk “menuduh” bahwa kita semua (termasuk sejoli sendiri dan kelompoknya) –yang juga menggunakan bahasa Indonesia- benar-benar orang-orang yang hanya membeo, taklid dan latah kepada orang-orang luar!! Sayang sekali, kedalaman dan ketinggian bahasa Arabnya tidaklah diimbangi oleh pengetahuan bahasa Indonesia yang memadai. Apakah beliau-beliau lupa bahwa di situs-situsnya yang sekian banyak itu sedang berdakwah dengan bahasa Indonesia? Ataukah beliau-beliau ini sedang membikin istilah-istilah tersendiri?

Gitu aja kok repot. Ungkapan ini benar-benar dari bahasa Indonesia. Tapi bukan itu permasalahannya. Apa yang terbersit di benak anda ketika mendengar atau membaca ungkapan tersebut? Siapa yang mempopulerkannya? Benar, sosok GD dengan segala tingkah polahnya yang selalu membikin repot dan geram kaum muslimin (termasuk para “teroris” berbendera “jihad” itu). Ungkapan yang dia populerkan yang tersisip di akhir pernyataan-pernyataannya yang –selalu- kontroversial. Terakhir, ketika dialognya dengan JIL yang menghebohkan karena pernyataannya bahwa:”Kadang-kadang saya geli, mengapa kiai-kiai kita, kalau dengerin lagu-lagu Ummi Kultsum-penyanyi legendaris Mesir-bisa sambil teriak-teriak “Allah. Allah.” Padahal isi lagunya kadang ngajak orang minum arak, ha-ha-ha.. (islamlib.com/id/index.php?page=article&id=1028)
Bahkan inilah ucapannya yang mendirikan bulu kuduk dan membikin marah setiap orang yang beriman:”Kitab suci yang paling porno di dunia adalah Al-Qur’an, ha-ha-ha..(tertawa terkekeh-kekeh)” (ibid). Dan wawancara JIL ini tentu saja ditutupnya dengan pernyataan khasnya yang tersohor dan dikenal oleh banyak orang:”Gitu loh’ selesai, kan? Gitu aja repot

Lalu apa hubungannya dengan permasalahan istilah yang membeo, taklid dan latah? Silakan anda perhatikan komentar mus$$ or $$ tentang artikel dua sejoli ini pada bagian 10 yang berjudul Buat Aisyah, tertulis:”Saya yakin sekali artikel di http://fatwaonline.com merupakan hasil translate dari bahasa arab ke bahasa inggris, sehingga besar sekali kemungkinan pada bahasa aslinya (bahasa arab), para masyayikh tersebut tidak menggunakan istilah “teroris” secara spesifik, akan tetapi ikhwan yang menterjemahkannya memilih istilah “teroris” dengan asumsi istilah “teroris” lebih mendekati makna asalnya (tentu saja hal ini berdasarkan asumsi penerjemah). Menurut saya pribadi, sebaiknya kita menghindari kata-kata yang mengandung berbagai persepsi serta ambigu ketika kita mengungkapkan suatu argumentasi atau pendapat, karena hal tersebut dapat dipersepsikan macam-macam, dan terkadang tidak sesuai dengan makna yang dimaksud oleh yang mengucapkan pertama kali. Yaa contohnya apa yang sudah terjadi antara Imam Samudra, ustadz Luqman Baabduh, dan Al-Akh Abduh Zulfidar Akaha. Repot kan?
Sungguh, istilah dalam syari’at kita sudah banyak, kenapa kita tidak mencukupkan diri dengan menggunakan istilah syari’at saja, kan gampang? gitu aja kok repot!

Kalau mereka bisa bersikap sedemikian bijaknya terhadap artikel-artikel para ulama di fatwaonline tentang istilah “teroris”, kenapa mereka tidak bersikap lapang dan jernih dengan istilah “teroris” dan “teroris-khawarij” di buku ustadz Luqman? Apakah karena hanyut dalam luapan emosi terhadap ustadz Luqman, sehingga menyebabkan mus$$ or $$ tidak dapat bersikap adil dalam permasalahan ini? Ataukah tuduhan membeo. taklid dan latah itu hanya berlaku untuk orang lain sedangkan dirinya sendiri bebas membeo, taklid dan latah kepada orang yang “sangat terkenal kiprahnya diketahui oleh banyak orang dalam menyakiti Islam dan kaum muslimin?! Maka bagaimana mungkin mus$$ or $$ tersebut menutup mata dari ungkapan-ungkapan GD yang dibeoi-nya, dilatahi-nya dan ditaklidi-nya dan di saat yang sama begitu gencarnya berjuang untuk menghapus cap “teroris” dari wajah Usamah bin Laden, Sayyid Quthb, Imam Samudra dan tokoh-tokoh teras neo-Khawarij lainnya?
Oleh karena itu amat mengherankan bila mus$$ or $$ yang berpenampilan “lembut” dan “bijaksana” dalam memperjuangkan hilangnya stempel teroris dari para khawarij itu dan memerangi “beo”, “latah” dan memerangi “taklid” ternyata amat mudah dan dengan perasaan tak bersalah membeo, latah dan taklid dengan GD sehingga ikut-ikutan menggunakan ungkapan tersohornya: “Gitu aja repot!”.
Bila demikian ini halnya, maka tidaklah layak bagi seorang muslim untuk ikut membeo, taklid dan latah dengan orang (yang sangat membenci Islam) sehingga menggunakan kata-kata sesat ini. Sikap latah semacam ini termasuk cermin lemahnya kepribadian seseorang dan rapuhnya aqidah seseorang.”(Antara…, Bag.10)

Porno. Istilah “porno” sudah memiliki konotasi yang sangat jelek di seluruh dunia! (Lihat komentar Pecinta Sunnah di artikel sejoli edisi ke-10,mus$$ or $$) Apakah karena dari segala sisinya berkonotasi jelek dus apalagi dipakai oleh GD untuk melecehkan Al-Qur’an sehingga istilah “porno” harus dihapus dari peredaran? Silakan jawab dengan kaidah yang anda buat sendiri dan jangan lupa memberikan solusi istilah penggantinya!!

Pertanyaan besar yang sangat menantang adalah: Apakah sejoli tersebut lupa untuk memberikan solusi pengganti istilah yang mereka usulkan? Kalau memang demikian keadaannya maka PR besar ada di pundak mereka untuk memberikan status yang paling tepat terhadap figur-figur khawarij/teroris semacam Usamah Bin Laden dan Imam Samudra yang dibantah kesesatannya oleh ustadz Luqman!!
Kalaupun tidak lupa, kenapa sejoli ini –sengaja- tidak menyertakan solusi pengganti dari istilah teroris-khawarij yang diberikan oleh ustadz Luqman? Apa istilah yang paling tepat untuk mereka? Kilabun Naar!! Anjing-Anjing Neraka!! Tetapi tampaknya stigma dakwah “lemah lembut” mereka akan menjadi berantakan jika solusi “kenabian’ ini yang mereka terapkan!! Stempel “ganas dan kasar’ sangatlah menghantui mereka kalau sampai berani mempopulerkan istilah Anjing-Anjing Neraka” terhadap Usamah Bin Laden dan Imam Samudra!! Sampai-sampai di artikel bantahannya jelas-jelas tertulis “tuntutan” agar Salafiyyin bisa bersikap lebih lembut terhadap Kilabun Naar itu!! Tertulis:”Kritikan Ketiga: Bersikaplah Lebih Lembut” Solusinya? Cukup bantah istilah teroris-khawarij dan jangan sekali-kali beri solusi pengganti kalau tidak ingin dakwah kita dicap kasar, keras dan berlebih-lebihan!!
Kalau saja sejoli ini sedikit tenang dan tidak terlarut dalam emosi ketika membaca buku MAT-nya ustadz Luqman niscaya beliau berdua akan mengetahui dengan jelas dan terang bahwa ustadz Luqman sama sekali tidak memutlakkan bahwa teroris=khawarij dari segala sisinya.
Cukuplah tiga contoh penggunaan istilah “teror, teroris dan terorisme” di dalam buku MAT sebagai buktinya:

1. Beliau terangkan bahwa teror yang terjadi tidak hanya teror fisik semata, bahkan “mereka mengiringinya dengan teror pemikiran, dalam upaya justifikasi atas terorisme dengan dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah serta fatwa para ulama ahlus Sunnah wal Jama’ah yang telah dimanipulasi dan diselewengkan maknanya atau mereka tempatkan tidak pada tempatnya. Teror pemikiran ini lebih kejam dan lebih sadis dari pada teror fisik” (MAT, Edisi Revisi, hal.6-7)

Di kamus-kamus bahasa yang telah lalu, walaupun secara redaksional, huruf perhurufnya tidaklah sama persis namun garis besarnya “teror” memiliki makna yang sama, usaha untuk menciptakan ketakutan,kekacauan, kepanikan baik dilakukan oleh individu ataupun golongan. (perhatikanlah bahwa tidak ada cap tertentu dan untuk agama tertentu dalam definisi-definisi tersebut).Teroris adalah pelakunya.

Maka teroris yang dimaksudkan pada poin pertama tersebut yang jelas-jelas dinyatakan melakukan: “..justifikasi atas terorisme dengan dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah serta fatwa para ulama ahlus Sunnah al jama’ah yang telah dimanipulasi dan diselewengkan maknanya” adalah teroris dalam ruang lingkup Islam, yang mengaku beragama Islam. Hal ini tidaklah samar bagi yang memiliki kejernihan pikiran dan terbebas dari luapan emosi dan perasaan ketika membacanya.
Jika demikian keadaannya maka tidaklah jujur kalau ada sementara pihak yang “membuat trik-trik” dengan berupaya menggiring opini umat agar memahami seolah-olah “teroris” kafirpun dimasukkan oleh ustadz Luqman dalam konteks kalimat tersebut!! Apakah di sini beliau memutlakkan istilah “teroris”? Jawablah dengan kejujuran iman anda.

2.Sejoli menukilkan isi buku MAT untuk mendukung tuduhan (terhadap ustadz Luqman) bahwa beliau menafsirkan teroris dengan khawarij (secara mutlak):
Padahal jelas-jelas dengan tegas Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam telah menyatakan bahwa para khawarij/teroris itu sebagai anjing-anjing jahannam.” (Mereka adalah Teroris 14, cet II dalam Antara Abduh…Bag.10)
Padahal” adalah kata sambung, seharusnya mereka bersikap jujur dan amanah kepada umat dengan mengembalikan konteksnya kepada kalimat sebelumnya yang dipenggal.3 Dengan demikian tidaklah salah jika tokoh-tokoh Khawarij di sini dimasukkan oleh ustadz Luqman ke dalam definisi teroris, teror pemikiran mereka berupa ajakan pengkafiran dan pemberontakan serta teror fisik yang diwujudkannya dengan pengeboman dan pembunuhan merupakan upaya untuk membikin rasa takut dan kepanikan (lihat kembali definisi teroris di kamus-kamus terdahulu yang dikeluarkan sebelum kasus WTC). Apakah semua fakta ini hanya kedustaan semata?

Bagaimana mungkin sejoli ini yang mengaku bermanhaj salaf ternyata tidak setuju bahwa Khawarij semacam Usamah bin Laden, Salman Al ‘Audah, Safar Al-Hawali, Imam Samudra dan tokoh-tokoh teras neo-Khawarij lainnya adalah sosok-sosok manusia yang menebarkan kekacauan dan ketakutan (baca:teroris) di masyarakat?
Jadi siapa sesungguhnya yang berupaya menanamkan pengkaburan pemahaman umat dan masyarakat padahal masyarakat yang paling awampun mengetahui bahwa ketika mendengar atau membaca kata “teroris” maka yang terbayang di benak-benak mereka –sebelum mengetahui agama mereka- adalah manusia atau sekelompok orang atau bahkan negara yang pekerjaannya membikin keresahan, kepanikan, kekacauan, melakukan peledakan-peledakan dan pembunuhan. Lalu apa tujuan yang ingin anda capai dengan berupaya menghapus stigma jelek berupa cap teroris terhadap Usamah bin Laden dan Imam Samudra serta para tokoh teras neo-Khawarij lainnya yang sudah sangat terkenal kiprah jeleknya dalam menebarkan teror dan malapetaka yang telah diketahui oleh banyak orang? Hanya karena mereka mengaku beragama Islam dan mengaku berjihad untuk Islam maka anda menjadi sewot dan mengingkari peran mereka dalam mencoreng-moreng agama ini? Sekali lagi, siapa sesungguhnya yang sedang menanamkan pengkaburan pemahaman di masyarakat dengan melakukan pendangkalan makna tanpa memberikan solusi yang sepadan sesuai dengan tingkat pemahaman masyarakat?

c. Konteks lain mengenai penggunaan istilah “teroris” yang ditujukan kepada orang Khawarij dan orang-orang kafir yang sama sekali lepas kaitannya dari definisi Khawarij (dan ini adalah bukti yang sangat jelas bahwa ustadz Luqman meletakkan istilah tersebut di tempat yang berbeda dengan makna yang berbeda pula agar dipahami sesuai konteksnya):
Tulisan ini dibuat semata-mata sebagai bentuk nasehat dan peringatan kepada kaum muslimin dari bahaya kesesatan kaum teroris-Khawarij. Dalam keadaan penulis meyakini bahwa Amerika Serikat dan sekutunya adalah teroris besar yang membenci dan memusuhi Islam, yang harus dihadapi dengan bimbingan ilmu Al Qur’an dan As Sunnah serta pemahaman generasi salaf. Bukan dengan kejahilan dan sikap brutal yang tidak bertanggung jawab dari kaum teroris-Khawarij.” (MAT, hal.12, Ed.Revisi)

Istilah “teroris” ada di 3 tempat dalam kalimat di atas.
Maka barangsiapa menuduh ustadz Luqman telah menafsirkan “teroris” dengan “Khawarij” (secara mutlak, dan opini ini yang memang sengaja dihembuskan) maka hendaklah dia memberikan bukti bahwa ustadz Luqman telah menuduh “Amerika Serikat dan sekutunya adalah Khawarij besar!!
Sekali lagi, barangsiapa menuduh ustadz Luqman telah menafsirkan “teroris” dengan “Khawarij” (secara mutlak, dan opini ini yang memang sengaja dihembuskan) maka hendaklah dia memberikan bukti bahwa ustadz Luqman telah mengkafirkan Khawarij karena menyamakan kedudukan mereka dengan Amerika Serikat dan sekutunya!!
Ini adalah konsekwensi yang tidak terelakkan sebagai akibat dari tuduhan yang mereka lontarkan!!
Dengan 3 contoh penggunaan istilah “teroris’ di atas, maka kalau anda benar-benar seorang pecinta sunnah tentulah anda berfikir seribu kali sebelum bertindak gegabah dengan tergesa-gesa menyimpulkan: ”Sedangkan ustadz Luqman Ba’abduh ‘terjatuh’ ke dalam kesalahan yang cukup fatal, karena menyamakan istilah “teroris” dengan “khawarij”, sungguh kesalahan yang sangat fatal!” (komentar artikel Antara…bag.10, mus$$ or $$). Semoga Allah menganugerahkan kemudahan dalam memahami dan membaca sebuah buku. Allahu yahdik.

Seharusnyalah untuk seorang yang berkandidat doktor dan Master Universitas Islam Madinah setingkat Muhammad Arifin dan Firanda yang telah bertahun-tahun bermulazamah kepada para masyayikh Ahlus Sunnah bisa memberikan teladan dalam menyikapi suatu permasalahan dengan sebaik-baiknya, tenang dan tidak tergesa-gesa apalagi sampai terhanyut oleh luapan emosi semata. Apalagi jika persoalan itu hanyalah “membaca” sebuah buku, apa sulitnya jika “hanya” dituntut untuk membaca dan memahami sesuai konteksnya? Tetapi ketika nafsu itu telah menggelora maka apriorilah yang berbicara, memahami seenak perutnya setelah itu…menulis risalah dengan mengaburkan ujung pangkalnya. Kata “teroris” yang telah dipilah-pilah penggunaannya, diletakkan sesuai konteksnya masing-masing akhirnya dicampuradukkan untuk kemudian disodorkan kesimpulannya kepada umat bahwa Luqman Ba’abduh yang bersalah.
Teruskan perjuangan anda sekalian! Hapuslah cap teroris pada wajah-wajah Khawarij seperti Usamah Bin Laden dan Imam Samudra serta tokoh-tokoh teras neo-Khawarij yang dibantah dan diuraikan kesesatan-kesesatannya oleh ustadz Luqman. Apakah anda berdua mengira bahwa mereka akan berterima kasih kepada anda?
Jauh lebih bermanfaat bagi umat (daripada sekedar mempermasalahkan istilah “teroris”) jika anda sekalian membantah dan menerangkan kesesatan ucapan:”Pada csaat mana juga ulama-ulama kian asyik tenggelam dalam tampukan kitab-kitab dan gema pengeras suara. Mereka tidak lagi peduli dengan penodaan, penistaan dan penjajahan terhadap kiblat dan tanah suci mereka. Dengan taqdir Allah, lahirlah segelintir mujahid yang benar-benar sadar dan mengerti apa yang harus mereka perbuat.” (Aku Adalah Teroris, cetk.1, hal.93, Jazera, Solo, , Sept.2004)
Ataukah anda berdua beranggapan bahwa persoalan istilah “teroris” jauh lebih penting dari pada ucapan kotor “teroris-Khawarij” ini?
Lebih baik baik anda berdua untuk membantah dan menerangkan kepada umat ucapan:”Fahd bin Abdul Aziz, sang raja dinasti Su’udiyah, mengikuti jejak langkah Mustafa Kamal At-Taturk dan Abu Righal (penunjuk jalan raja Abrahah saat menyerang Ka’bah). Ia dan gerombolan pembisiknya mengelabui Dewan Fatwa Saudi Arabia yang –dengan segala hormat- kurang mengerti trik-trik politik.” (ibid, hal.92)
Apakah anda berdua mempersoalkan istilah “teroris” untuk memalingkan umat dari ucapan Imam Samudra yang khabits dan jahat ini agar perjuangan anda berhasil dalam menghapuskan stempel “teroris” dari wajah-wajah mereka?
Bagaimana mungkin anda tidak terima dengan istilah “teroris” yang dilekatkan ustadz Luqman kepada Imam Samudra sementara sekian tahun anda sekalian para pejuang “dakwah lemah lembut” berdiam diri dari perkataan kejinya -terhadap para ulama Ahlus Sunnah- yang sangat khabits:”Lalu ulama-ulama yang tak pernah angkat senjata dan tak pernah berjihad itu, yang kehidupan mereka dipenuhi dengan suasana comfortable, segera menjilat penjajah Amerika dan mencari muka sambil ketakutan dituduh sebagai “teroris” dengan mengeluarkan ‘fatwa’ agar kaum muslimin mendonor darah bagi korban tragedi WTC dan Pentagon, sekalipun korbannya jelas-jelas bangsa kafir penjajah. Hal tersebut tidaklah jauh berbeda dengan kondisi pada 12 Oktober 2002. Yang paling ironis, menjengkelkan dan menjijikkkan adalah bahwa ‘ulama-ulama’ itu tidak berbuat hal-hal yang sama tatkala ratusan ribu umat Islam dibantai Amerika dan sekutunya. Tidak ada sepatah kritikpun yang keluar dari mulut mereka demi menghadapi kebiadaban kafir Amerika dan sekutunya, apalagi ‘fatwa’ mereka untuk mendonor darah. Mata dan telinga mereka sesungguhnya melihat dan mendengar tragedi menyayat hati yang diderita umat Islam itu, tetapi bibir mereka bungkam sejuta bahasa. Hati mereka terbalik sudah, lebih takut kepada manusia bernama kafir Amerika dan sekutunya ketimbang takut kepada Allah dan membela saudara mereka seiman seaqidah.” (ibid, hal.110-111)

Maka merupakan kedhaliman yang sangat-sangat besar ketika dua sejoli ini berkata terhadap ustadz Luqman:”maka kita akan berkesimpulan bahwa Saudara Ba’abduh sebenarnya sedang menghujat dirinya sendiri. Sehingga pada kesempatan ini saya mengingatkan kepada saudara Abduh dan kawan-kawannya agar tidak berang, sebab yang dihujat pada tulisan saudara Ba’abduh bukan hanya anda dan kawan-kawan anda, akan tetapi juga diri penulis sendiri dan juga kawan-kawannya yang senasib dan sepenanggungan dengannya.” (Antara…, Pengantar)
Sungguh Allah Ta’ala adalah sebaik-baik saksi atas kedhaliman ini!! Sekian tahun mereka berdiam diri dari ucapan dan tuduhan-tuduhan keji di atas!! Setelah para hizbiyyun jahat itu mengeluarkan bukku bantahan terhadap buku MAT yang berisi bantahan-bantahan dan pembelaan terhadap kehormatan para ulama yang diinjak-injak oleh para teroris-Khawarij itu maka dua sejoli inipun tidak ketinggalan pula untuk ikut serta memberikan “bogem mentahnya” dan dengan ringan lisan memvonis MAT sebagai sebuah “HUJATAN PADA DIRI PENULIS SENDIRI (Luqman Ba’abduh-peny)!!” (ibid)
Tidak cukup itu, bahkan sejoli ini berupaya menarik simpati Abduh sang pembela teroris-Khawarij Imam Samudra dengan ucapannya:”Sehingga pada kesempatan ini saya mengingatkan kepada saudara Abduh dan kawan-kawannya agar tidak berang, sebab yang dihujat pada tulisan saudara Ba’abduh bukan hanya anda dan kawan-kawan anda, akan tetapi juga diri penulis sendiri dan juga kawan-kawannya yang senasib dan sepenanggungan dengannya.” (ibid)
Sadarlah wahai dua sejoli yang sedang menuntut ilmu pada program pasca sarjana Universitas Islam Madinah yang telah bertahun-tahun bermulazamah kepada para masyayikh Salafiyyin, lebih baik dan lebih utama bagi anda untuk bersikap yang lebih lembut kepada Salafiyyin daripada menuntut Salafiyyin agar bersikap lebih lembut kepada manusia-manusia berdarah dingin yang lisannya penuh dengan cercaan dan pelecehan terhadap para ulama Ahlus Sunnah, yang tangan para teroris-Khawarij tersebut telah berlumuran darah kaum muslimin semacam Usamah Bin Laden, Imam Samudra dan konco-konconya!!

Berdiam diri sekian tahun ini dari tikaman-tikaman keji dan jahat Imam Samudra yang dilemparkannya kepada umat adalah bukti kesalahan fatal dakwah “lemah lembut” anda sekalian!! Tidakkah seharusnya anda sekalian malu, di saat bisa tertidur nyenyak dan sibuk menjaga penampilan dakwah justru di saat itu ustadz Luqman selama satu tahun berupaya sekuat tenaga dan menyisihkan waktu di sela-sela kesibukan beliau untuk menuliskan bantahan terhadap buku jahat Imam Samudra sebatas kemampuan yang beliau miliki? Demi Allah, sungguh kami yang miskin ini tidak tahu kenapa anda berdua begitu tega menyatakan bahwa beliau sedang menghujat dirinya sendiri!! Justru di saat anda sekalian tidak berbuat apa-apa dan tidak bersikap apapun terhadap buku kesesatan Imam Samudra dan kelompoknya!! Allah-lah sebaik-baik saksi, kepada siapa umat Islam harus berterima kasih? Kepada ustadz Luqman yang sedang menghujat dirinya sendiri ataukah kepada Muhammad Arifin Badri dan Firanda As-Soronji yang berjuang untuk menghapus cap “teroris” dari wajah Imam Samudra Al-Khariji!! Dimana kecemburuan terhadap agama ini anda letakkan? Sungguh hamba yang miskin ini sangat yakin bahwa “sikap kalian yang sedemikian rupa” ini bukanlah hasil dari didikan para ulama yang mulia, tetapi akibat pengaruh pergaulan bebas kalian dengan para hizbiyyin itu!!

Kembali kepada istilah “teroris” yang digugat oleh sejoli ini. Jika istilah itu ada di kamus kaum muslimin apakah anda sekalian otomatis menyetujuinya agar terhindar dari stempel hanya bisa membeo, taklid dan latah dari orang kafir? Tentu kita sepakat bahwa kata “khurafat, Syi’ah dan Khawarij” berasal dari istilah Islam. Tapi apakah sejoli ini juga setuju dengan istilah “Khurafiyna, Syi’iyna dan Kharijiyna” yang menjadi keyakinan dasar yang sangat sesat & menyesatkan dari Syaikh “Salafy” Ahmad Surkati pendiri Al-Irsyad penerus dakwah PAN ISLAMISME seorang Rafidhah jahat agen rahasia Yahudi Freemasonry Jamaluddin Al-Afghani? Apakah istilah “Khurafat, Syi’ah dan Khawarij” harus dihapus dari kamus kaum muslimin hanya karena istilah tersebut diselewengkan dan disalahgunakan oleh As-Surkati untuk memperbanyak pengikutnya? Apa artinya bahwa Syaikh Salafy ini dipublikasikan sebagai pemberantas syirik, bid’ah dan khurafat kalau dirinya ternyata memiliki keyakinan dasar bahwa mereka itu masih tergolong saudara dan golongannya?! Bahkan Khawarij yang jelas-jelas ANJING-ANJING NERAKA-pun (tentu kita lebih memilih bahasa kenabian daripada sekedar mengejar label “bersikap bijaksana dan tidak kasar” seperti tuntutan mereka) masih dikatakan sebagai golongannya!! Inilah kelembutannya!! Inilah hikmah dan kebijaksanaannya!! Dan …..inilah kesesatannya.

Apakah mereka juga menutup mata bahwa istilah JIHAD selama ini telah dikibarkan untuk melakukan tindakan teror, pembunuhan dan pengeboman oleh kelompok “teroris” tersebut?! Dan…Muhammad Arifin serta Firanda-lah yang sekarang getol menuntut Salafiyyin agar bersikap lembut kepada mereka!! Memperjuangkan agar cap “teroris” hilang dari muka-muka mereka!! Ada apa di balik semua ini? Wajarkah jika sebuah kata disalahgunakan maka solusinya haruslah melenyapkan kata tersebut dari peredaran? “Perampok”, “pembunuh” tetaplah sebuah kata yang memiliki definisi tertentu yang tidak bisa diubah dengan seenaknya. “Perampok” tetaplah dinamakan “perampok” walaupun dilakukan oleh orang yang mengaku beragama Islam. Demikian pula “pembunuh” tetaplah disebut “pembunuh” walaupun yang melakukannya orang-orang kafir. Jangan hanya karena istilah ini dituduhkan kepada orang/kelompok tertentu yang tidak melakukan “perampokan” atau “pembunuhan” maka kata “perampok” dan “pembunuh” yang disalahkan dan konsekwensinya harus dihapus dari kosa kata yang ada seperti tuntutan mereka terhadap kata “teroris” yang disalahgunakan oleh orang-orang kafir!! Definisi dan literatur mana yang –membenarkan anggapan sejoli ini- bahwa cap teroris hanyalah ditujukan kepada orang-orang yang beragama Islam dan tidak berlaku bagi orang-orang kafir Yahudi, Nasrani dan selainnya? Pemerintah Srilanka “tetap” menuduh bahwa gerilyawan Macan Tamil Eelam (LTTE) adalah “teroris” yang menebarkan kepanikan dan ketakutan (baca:teror, lihat lagi definisinya) !! Dan tidak ada di dalam kamus kaum muslimin yang menyatakan bahwa Tamil Eelam tersebut termasuk bagian dari kaum muslimin!!4

Jihad memiliki makna dan definisi yang sangat mulia dan dimuliakan oleh dinul Islam! Ketika kata tersebut telah banyak disalahgunakan oleh sekian banyak kelompok yang mengatasnamakan Islam maka kita tanyakan kepada dua sejoli tersebut: Manakah yang lebih lebih layak dan lebih pantas untuk anda perjuangkan “penghapusannya”, kata “teroris’ yang tidak ada di kamus-kamus kaum muslimin yang disalahgunakan oleh orang-orang kafir itu ataukah kata “jihad’ yang ada di kamus-kamus kaum muslimin yang disalahgunakan oleh firqah-firqah sesat itu? Silakan jawab dengan kaidah yang anda buat sendiri.

Adalah suatu keanehan yang luar biasa bahwa justru stempel “teroris” yang mereka bela penghapusannya sementara stempel “jihad” yang disalahgunakan untuk melakukan pembunuhan dan pengeboman oleh para “teroris” itu tidaklah mereka bela. Kalaulah mereka sedikit saja berfikir “bijaksana”, bukankah seharusnya yang menyalahgunakan –siapapun dia baik orang kafir maupun orang yang mengatasnamakan Islam- yang mendapat tahdzir dan peringatan? Ribuan kasus pembunuhan dilakukan dengan menggunakan “pisau”, dengan kaidah sejoli yang kebingungan ini maka semestinya kata “pisau” haruslah lenyap dari peredaran. Tapi…dengan apa mereka memasak? Dengan “titik-titik”? Kita tunggu solusi cerdas mereka…

Tidak adakah permasalahan yang “jauh lebih kecil” daripada sekedar permasalahan “besar” yang bisa mereka sumbangkan kepada umat selain memperjuangkan penghapusan cap “teroris” dari para “teroris-Khawarij” itu?

Tidak ada komentar: