Artikel Terkini
recent

Musuh-Musuh Manusia (Bagian 1)

Musuh-Musuh Manusia (Bagian 1)

Musuh-musuh Manusia1

Musuh-Musuh Manusia

Penulis: Al Ustadz Idral Harits Abrar Hafizhahullah

Manusia Itu Serba Lemah
Ternyata, keseimbangan dan kesempurnaannya sebagai manusia justru meliputi pula kekurangan dan kelemahannya. Ketika dia lahir ke dunia, dia sangat tergantung kepada bantuan orang-orang yang di sekitarnya. Saat dia di ranjang kematiannya, dia berada pada puncak kelemahannya. Kadang dia tertawa, sedih, dan tertawa kembali, itu adalah salah satu kelemahannya. Itulah sejatinya manusia. Dia sangat mudah diombang-ambingkan perasaannya sendiri, terjerembab diamuk birahi dalam jiwanya. Akhirnya, meratap menyesali perjalanan hitamnya. Wallahul Musta’an.
Mahasuci Allah Ta’ala Yang berfirman (An Nisa`28):
 وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا
 “Dan manusia dijadikan bersifat lemah,”
Imam Asy Syafi’i rahimahullahu menerangkan bahwa yang paling nyata pada diri manusia adalah kelemahannya dan siapa yang mengakui kelemahan dirinya, niscaya meraih kekokohan bersama Allah Ta’ala. Akan tetapi, justru dengan berbagai kelemahan itupula manusia menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi, menyerahkan seluruh jenis ibadah hanya kepada Allah Ta’ala, satu-satunya, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Inilah tujuan manusia itu diciptakan.
Allah Ta’ala berfirman (Adz Dzaariyaat 56):
 وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”
Berbagai kelemahan yang ada pada manusia telah Allah terangkan di dalam kitab-Nya yang mulia, di antaranya; Allah Ta’ala berfirman (An Nahl 78):
 وَاللهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”
 Manusia itu terlahir dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa. Kemudian, Allah Ta’ala membuat mata, telinga dan hati (akal)nya berfungsi. Setelah itu sedikit demi sedikit bertambahlah kekuatan dan kematangan fungsi alat tubuhnya, hingga mencapai puncak kesempurnaannya, lalu berangsur-angsur melemah dan berhenti sama sekali dengan kematian. Renungkanlah keadaannya saat pertama kali dia diciptakan. Dia terbaring begitu rupa di depan pintu surga tanpa daya. Bahkan, setelah ruh ditiupkan kepadanya, lihatlah kembali salah satu bukti kelemahannya; dengan tergesa-gesa dia bangkit. Wallahul Musta’an. Allah Ta’ala berfirman (Ar Ruum 54):
 اللهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ
“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang Maha mengetahui lagi Maha Kuasa.
Tidak hanya itu. Apabila kita memerhatikan keringanan-keringanan (rukhshah), bahkan kemudahan yang diberikan oleh syariat yang mulia ini, tentu kita menyadari bahwa itu semua adalah bentuk perhatian terhadap adanya kelemahan yang ada pada manusia. Begitu pula kebanyakan larangan yang diberlakukan, tidak lain adalah karena lemahnya manusia, khususnya di hadapan perkara-perkara yang diharamkan. Karena itulah, meski hanya sedikit, khamr (minuman keras) diharamkan. Bahkan semua jalan yang membawa kepada yang haram, ikut pula diharamkan. Dengan kekurangan dan kelemahan yang ada pada dirinya, sudah tentu dia tidak bisa berdiri sendiri dalam memenuhi keperluan dirinya. Tentu saja yang paling utama dan pertama tempat dia bergantung adalah kepada Rabbnya yang telah menciptakan dan menyediakan segala sesuatu untuk hidup dan kehidupannya.
Allah Ta’ala berfirman (Faathir 15):
 يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللهِ وَاللهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
“Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.”
 Kebergantungan ini diterangkan pula oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat yang beliau sampaikan dari Allah ‘Azza wa  Jalla:
 يَا عِبَادي ، كُلُّكُمْ ضَالّ إلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ فَاستَهدُوني أهْدِكُمْ . يَا عِبَادي ، كُلُّكُمْ جَائِعٌ إلاَّ مَنْ أطْعَمْتُهُ فَاستَطعِمُوني أُطْعِمْكُمْ . يَا عِبَادي ، كُلُّكُمْ عَارٍ إلاَّ مَنْ كَسَوْتُهُ فاسْتَكْسُونِي أكْسُكُمْ . يَا عِبَادي، إنَّكُمْ تُخْطِئُونَ باللَّيلِ وَالنَّهارِ وَأَنَا أغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً فَاسْتَغْفِرُوني أغْفِرْ لَكُمْ .
“Hai hamba-hamba-Ku, kamu semua adalah sesat kecuali yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku menunjuki kamu. Hai hamba-hamba-Ku, kamu semua adalah lapar, kecuali yang Aku beri makan, maka mintalah makan kepada-Ku, niscaya Aku memberimu makan. Hai hamba-hamba-Ku, kamu semua telanjang, kecuali yang Aku beri pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya Aku memberi pakaian. Hai hamba-hamba-Ku, kamu semua berbuat salah malam dan siang, sedangkan Aku mengampuni dosa semuanya, maka mintalah ampunan kepada-Ku, niscaya Aku memberimu ampunan.”
 Hadits ini menampakkan kelemahan dan kebergantungan seluruh makhluk kepada Allah Ta’ala dalam upaya mereka memperoleh manfaat dan menolak mudarat, baik dalam urusan dunia, maupun akhirat. Begitu pula halnya dengan manusia itu sendiri, dia sama sekali tidak kuasa memberi manfaat ataupun mudarat untuk dirinya sendiri. Berbagai kesenangan dunia yang dirasakan oleh manusia, murni berasal dari Allah Ta’ala. Begitu pula kemudahan dalam urusan agama, apakah berupa ilmu, iman, takwa dan ketaatan, semua datangnya dari Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman (An Nahl 53):
 وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.”
Yang Paling Berharga Manusia diciptakan adalah untuk berbadah hanya kepada Allah Ta’ala, satu-satunya, tidak mengada-adakan sekutu atau tandingan bagi-Nya dengan apapun juga. Akan tetapi, yang paling diperhitungkan dan diperhatikan adalah ibadah yang dilakukan oleh hati manusia, sedangkan tubuh kasar mereka hanya mengikuti keadaan hati tersebut. Oleh sebab itu, jika memang ada ma’rifatullah (mengenal Allah) di dalam hati, demikian pula niat dan keinginan yang tulus kepada Allah, niscaya menjalar ke seluruh anggota badan, tidak mungkin ada yang tertinggal atau luput darinya. Inilah yang dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:
 أَلاَ وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah! Sesungguhnya di dalam tubuh itu terdapat sekerat daging yang apabila baik maka baik pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah daging itu adalah qalb (jantung hati).”
Dengan demikian, apabila hati itu baik dengan terisi keimanan, baik dalam bentuk pengetahuan atau pemahaman hati dan amalannya, mau tidak mau, anggota tubuh juga baik dengan ucapan lahiriah dan amalan iman yang sempurna. Semua amalan lahiriah akan mengikuti apa yang ada di dalam batin. Sebab itu pula, mustahil seseorang akan dikatakan menyintai Allah dan Rasul-Nya, menginginkan dengan keinginan yang kokoh apa-apa yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, dalam keadaan dia mampu, tetapi dia justru tidak melaksanakannya. Jadi, apabila seseorang tidak mengucapkan kata-kata iman padahal dia mampu, ini menunjukkan bahwa di hatinya tidak ada iman yang diwajibkan oleh Allah Ta’ala.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu menyebutkan bahwa siapa saja yang tidak mempunyai ilmu tentang hal-hal yang dapat memperbaiki keadaan batinnya, ataupun yang merusaknya, dan tidak berniat memperbaiki hatinya dengan keimanan serta menolak kenifaqan, dia adalah munafik, meskipun menampakkan keislamannya. Sebab, Islam itu bisa ditampilkan oleh setiap orang, baik mukmin maupun munafik, sedangkan iman itu letaknya di hati. Menurut beliau juga, siapa yang mengamalkan amalan lahiriah, tanpa ada sikap tashdiq (mengakui kebenaran) di dalam hatinya, dia adalah munafik. Begitu pula mereka yang mengaku-aku menyimpan keadaan batin yang berbeda dengan lahiriahnya, dia adalah kafir munafik.
Oleh sebab itu, apabila hati itu baik tidak ada sesuatu di dalamnya kecuali menginginkan Allah (yaitu ikhlas karena Allah) dan (menyukai) apa-apa yang diridhai oleh Allah- niscaya anggota tubuh itu tidak akan bergerak kecuali dalam hal-hal yang dicintai oleh Allah. Mereka akan bersegera kepada hal-hal yang di dalamnya terdapat ridha-Nya dan akan menahan diri dari apa-apa yang tidak disukai-Nya. Akhirnya, lisannya akan terjaga untuk berbicara dengan jujur, lurus, tepat, dan penuh hikmah serta bermanfaat. Matanya akan digunakan untuk mengambil pelajaran dan menundukkannya dari hal-hal yang diharamkan. Telinganya akan digunakan untuk mendengarkan nasehat dan ucapan yang dapat memberi manfaat bagi dunia dan akhiratnya. Begitu pula kemaluannya, akan terpelihara dari perbuatan keji dan terjaga kehormatannya. Anas radhiyallahu ‘anhu berkata,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 لاَ يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ، وَلاَ يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ
Tidak akan lurus iman seorang hamba sampai hatinya lurus, dan hatinya tidak akan lurus sampai lurus lisannya.” Artinya, kapan saja hati itu kokoh dalam pengenalannya kepada Allah serta takut kepada-Nya, mengagungkan-Nya, memuliakan-Nya, menginginkan-Nya, berharap kepada-Nya, bertawakal kepada-Nya dan berpaling dari semua yang selain-Nya niscaya anggota tubuh itu pun akan lurus seluruhnya. Hadits Nu’man di atas, menggugurkan pula alasan siapa saja yang ketika jatuh dalam kesalahan lalu dinasehati- tetapi mengatakan,”Yang penting hatinya,” atau,”Jangan lihat lahiriahnya, asal niatnya baik,” dan sebagainya. Sebab, kalau memang hati itu baik, niscaya anggota tubuhnya tentu akan baik. Sayangnya, hal inilah yang lolos dari perhatian kebanyakan manusia. Jujur saja, kebanyakan orang lebih sering memerhatikan penampilan dan keadaan lahiriahnya daripada batin. Banyak orang yang sangat bersemangat memeriksa dan merawat kesehatan fisiknya daripada merawat dan menjaga kesehatan hatinya. Kebanyakan orang lebih sering mempunyai waktu yang khusus untuk berolah raga, selalu menyiapkan gizi yang cukup untuk tubuh (fisik)nya. Banyak pula di antara manusia itu yang secara rutin berkunjung ke dokter ahli atau spesialis tertentu untuk memeriksakan diri.
Tetapi, adakah di antara mereka yang pernah menyediakan waktu yang cukup dan khusus untuk memeriksakan dan merawat hatinya? Pernahkah mereka menanyakan kepada ‘ahli’ penyakit-penyakit hati, tentang keadaan hati mereka? Sebagian orang lebih suka mengeluarkan sampai ratusan juta rupiah untuk mengobati tubuh mereka yang terkena penyakit.
Akan tetapi, alangkah sulitnya mereka membelanjakan harta yang sangat mereka sukai untuk mengobati hati, merawat kesehatannya dan menjauhkannya dari berbagai penyakitnya. Bahkan, kebanyakan mereka yang rajin berdoa, lebih senang dan lebih sering meminta hal-hal yang bersifat dunia, apakah berupa anak, harta, kesehatan, ataupun kedudukan, tetapi sangat jarang mereka memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla kebersihan dan keselamatan hati, terhindar dari berbagai syubhat dan syahwat. Padahal, bersih dan sehatnya hati dari semua dosa dan penyakitnya (syubhat dan syahwat) adalah dasar bagi kebahagiaan hidup manusia, di dunia dan akhirat.
Bahkan, pada kenyataannya, tidak sedikit di antara orang-orang yang shalat itu, tidak mendapatkan apa-apa dari shalatnya selain kepenatan. Begitu pula mereka yang berpuasa, tidak memperoleh sesuatu selain lapar dan haus. Yang naik haji juga tidak meraih apa-apa selain digelari Pak Haji atau Bu Hajjah. Mereka yang berinfak dan bersedekah hanya memperolah julukan sebagai muhsinin. Di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pernah hidup seorang wanita yang dikenal banyak shalat, puasa dan sedekahnya, tetapi dia selalu menyakiti tetangganya dengan ucapannya. Ketika ditanyakan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang wanita itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 هِيَ فِي النَّار
 “Dia di neraka.”
 Lantas, bagaimana dengan kenyataan di sekitar kita? Di sana-sini masih banyak kita melihat wanita muslimah yang menampakkan auratnya, mereka berpakaian tetapi sesungguhnya telanjang. Yang pria, mencukur janggutnya, menjulurkan kain celananya menutupi mata kaki, campur baur, berdesakan dengan kaum wanita. Tidak sedikit pula pria yang bangga mengenakan sutera, cincin emas, anting-anting, kalung, dan larut dalam musik dan nyanyian. Padahal, mereka juga rajin shalat, puasa, bahkan banyak yang telah menunaikan ibadah haji dan umrah? Wallahul Musta’an
Dalam perjalanannya di dunia yang tidak ringan ini banyak musuh yang mengintai kelengahan seorang manusia, lebih-lebih seorang mukmin. Ada musuh yang tegak berdiri di hadapannya, merintangi langkahnya atau membelokkanya ke arah yang salah. Apakah dengan menghiasi berbagai kejelekan agar terlihat indah lalu manusia itu tertarik untuk mengerjakannya. Atau, sebaliknya, membuat yang baik seakan-akan sebuah keburukan yang harus dijauhi dan dimusuhi. Secara bahasa, musuh (‘aduw) adalah lawan dari teman, pelindung, penolong (waliy), dan bentuk jamak dari ‘aduw ialah a’da`. Musuh-musuh yang dihadapi oleh manusia, ada segolongan yang memang kita diperintahkan untuk memusuhinya, bahkan memeranginya, di antaranya adalah seperti yang diisyaratkan dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla (An Nisa` 92):
 فَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ عَدُوٍّ لَكُمْ
Maka jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang menjadi musuh bagi kamu….” Ada pula golongan yang memusuhi mereka bukan sebagai tujuan utama (bukan sosok yang harus dimusuhi -pen), tetapi kadang-kadang seseorang terpaksa harus menghadapi gangguan yang muncul dari golongan ini, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala (At Taghabun 14):
 إِنَّ مِنْ أَزْواجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ
“Sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu.”
Mereka (istri dan anak-anak) digolongkan sebagai musuh, karena mendorong seorang suami melakukan pelanggaran untuk memenuhi kepentingan istrinya. Atau menyebabkan seorang ayah bermaksiat demi menyenangkan hati-hati anak-anaknya, hingga menjerumuskannya ke dalam kebinasaan abadi. Hanya karena permintaan istri yang ingin memiliki rumah dan perabotan mewah, kendaraan yang bagus, atau perhiasan yang mahal, seorang suami tergerak melakukan penipuan, pencurian, penggelapan, pengkhiatan, bahkan pembunuhan. Hanya karena memenuhi keinginan hati anak kesayangannya yang ingin tampil di hadapan teman sebayanya, sang ayah rela merampok dan membunuh. Itu baru di dunia, belum lagi di akhirat.
Lebih buruk lagi, kalau dia sampai ‘harus’ menjual manhajnya, merendahkan dirinya, dan menghinakan ilmu yang dibawanya, hingga dia terlepas dari lingkup pergaulannya dengan ahlis sunnah. Bahkan ikut menyebarkan fitnah dan syubhat di kalangan ahlis sunnah serta orang-orang awam. Wal’iyadzu billahi. Menurut istilah, al ‘aduw ialah siapa saja yang berusaha mencelakakan orang lain dan melawannya hingga menjerumuskan lawannya ke dalam kerugian. Ada juga yang mengatakan bahwa siapa saja yang merasa senang melihat kesengsaraan orang lain, berarti dia adalah musuh bagi orang tersebut. Di dalam kehidupan ini, ada tiga musuh paling utama yang harus dihadapi setiap manusia, yaitu dunia yang ditempatinya, syaitan yang selalu menyertainya, dan hawa nafsu yang ada dalam dirinya selama dia masih hidup. Ketiga musuh inilah yang sering menyebabkan terperosoknya manusia ke dalam perbuatan melanggar larangan dan meninggalkan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Seperti itu pula yang dikatakan oleh Yahya bin Mu’adz Ar Razi rahimahullahu,”Musuh manusia itu ada tiga; dunia, syaitan dan nafsunya. Bentengilah diri dari dunia dengan zuhud terhadap dunia, dari syaitan dengan menyelisihi perintahnya, dan dari nafsu dengan meninggalkan syahwatnya
Syaitan, Musuh Utama Syaitan adalah musuh manusia yang paling hebat. Dia dan tentaranya selalu mengintai dari arah yang tidak bisa dilihat oleh manusia. Syaitan selalu menyertai manusia, karena berjalan pada diri manusia, di jalan darah mereka. Ketika manusia lalai, syaitan akan menyerang hatinya dan mulai meniupkan was-was untuk menyesatkan manusia tersebut. Dendam dan permusuhannya terhadap manusia tidak pernah berhenti. Dialah pangkal semua kejahatan yang ada di dunia ini. Dia sangat pandai memanfaatkan kelemahan manusia untuk menghancurkan dan menyeretnya ke neraka. Allah Ta’ala berfirman (Faathir 6)
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ
لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ
“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.”
Allah Ta’ala berfirman (Yasiin 60):
أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَن لَّا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
“Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu.”
Dan berfirman (An Nisa` 60):
 وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُضِلَّهُمْ ضَلاَلاً بَعِيدًا
“Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.”
Di antara bukti kejahatannya itu adalah sumpahnya di hadapan Allah Ta’ala sesudah dia menolak sujud menghormati Adam sebagai bukti ketaatannya kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman menceritakan sumpahnya (Al A’raaf 16-17):
 قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ (16) ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).”
Puncak kejahatannya yang pertama adalah keberhasilannya membuat Adam ‘alaihissalam dan istrinya (Hawwa) keluar dari surga. Tidak berhenti sampai di situ, dia menyeret dari seribu anak Adam, sembilanratus sembilanpuluh sembilan ikut menemaninya di neraka. Dia selalu berusaha menjegal dakwah para Nabi dan Rasul dengan seluruh daya dan upayanya. Dialah yang menjadi sebab terbunuhnya Nabi Yahya dan Nabi Zakariya ‘alaihimassalam. Dia pula yang berusaha mencelakakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan melemparkan api ke wajah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia juga yang membantu orang-orang yang Yahudi menyihir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada jalan untuk menghindar dari kejahatannya selain dengan pertolongan Allah Ta’ala.
Kita tidak mungkin membatasi jenis-jenis kejahatannya, apalagi menguraikannya satu demi satu, karena semua kejahatan di alam ini, dialah sebabnya. Akan tetapi, mungkin dapat diringkas, ada enam pintu kejahatan yang dibentangkannya untuk menyeret manusia ke dalamnya. Sebab, dia ingin meraih kemenangan dengan menjerumuskan manusia melalui pintu-pintu kejahatan yang sebagiannya lebih sulit daripada yang lainnya. Syaitan tidak akan berpindah ke pintu yang lebih rendah, kecuali jika dia kesulitan atau gagal untuk memasuki pintu yang di atasnya.
Pintu-pintu itu, sebagai yang diuraikan oleh Ibnul Qayyim rahimahullahu, sebagai berikut.
Pintu yang pertama adalah kekufuran dan kesyirikan serta memusuhi Allah dan Rasul-Nya. Apabila dia berhasil menghancurkan manusia melalui kejahatan ini, tenanglah hatinya, redalah kesedihannya, dan dia dapat beristirahat dari kepayahannya melumpuhkan manusia. Inilah yang pertama kali diinginkannya terhadap diri manusia. Syaitan tidak henti-hentinya membujuk dan merayu manusia sampai manusia itu jatuh dalam kekafiran, kesyirikan dan permusuhan terhadap Allah dan Rasul-Nya. Kalau berhasil, dia akan menjadikan manusia itu sebagai prajuritnya bahkan menjadi penggganti syaitan dalam menghancurkan manusia lainnya.
Seandainya syaitan gagal dari arah ini, dia akan beralih kepada kejahatan berikutnya, yaitu Pintu yang kedua, yaitu bid’ah. Mengapa syaitan menjadikannya sebagai jalan kedua untuk menghancurkan manusia? Alasannya, karena bahayanya menimpa agama seseorang, dan sangat sulit pelakunya bertaubat dari suatu kebid’ahan, karena merasa yakin bahwa dia sedang melakukan sebuah kebaikan atau ketaatan.
Dikisahkan, di masa tabi’in terkemuka, Sa’id bin Al Musayyab rahimahullahu, ada yang mengerjakan shalat sunah subuh di Masjid Nabawi berulang kali. Sa’id bin Al Musayyab menegur dan menasehatinya. Tetapi, orang itu justru mengatakan,”Wahai Imam, apakah saya akan disiksa karena mengerjakan shalat?” Sa’id bin Al Musayyab berkata,”Engkau tidak disiksa karena shalat, tetapi disiksa karena menyelisihi perintah/ketetapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena Allah Ta’ala berfirman (An Nuur 63):
 فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.”
Bid’ah itu adalah ajaran yang menyelisihi dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengajak untuk menyimpang dari ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bawa. Karena itu pula, sebagian ulama salaf mengatakan,”Bid’ah itu lebih dicintai oleh iblis daripada kemaksiatan. Sebab, pelaku kemaksiatan itu, mungkin saja bertaubat, sedangkan pelaku bid’ah tidak mungkin bertaubat (karena merasa dirinya benar).” Wallahul Musta’an.
Kalau syaitan berhasil melalui pintu ini, dia akan menjadikan manusia itu sebagai wakilnya yang mengajak manusia lain kepada kebid’ahan.
Andaikata dia gagal, misalnya karena manusia itu diberi anugerah kecintaan kepada sunnah dan memusuhi bid’ah dan para pengusungnya, syaitan akan menggunakan arah berikutnya, yaitu; Pintu yang ketiga ialah pintu dosa-dosa besar (kabair) dengan semua perbedaannya. Syaitan sangat berambisi menjerumuskan manusia itu ke dalamnya. Terutama apabila manusia itu adalah orang yang berilmu dan diikuti, syaitan sangat antusias membuat orang lain lari meninggalkan manusia tersebut. Kemudian, dia akan menyebarkan dosa itu di tengah-tengah manusia, bahkan menunjuk wakil-wakilnya di antara mereka untuk menyebarkan ke seluruh penjuru, dengan dalih taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Ta’ala, padahal tanpa disadarinya dia justru menjadi wakil iblis.
Padahal, Allah Ta’ala berfirman (An Nuur 11):
 إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.”
 Inilah buahnya jika mereka senang menyebarkannya. Bagaimana pula kiranya, jika mereka justru yang paling berperan menyebarkan tanpa memberinya nasehat, bahkan menuruti ajakan iblis agar membuat orang lari dari orang alim tersebut dan ilmunya?
Dosa yang dilakukan orang alim itu, meskipun sampai ke ujung langit, bisa jadi masih lebih ringan dalam pandangan Allah daripada perbuatan mereka. Sebab, dosa yang dilakukannya itu adalah kezaliman terhadap dirinya sendiri, yang seandainya dia meminta ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya, tentu Allah ‘Azza wa Jalla menerimanya dan mengganti kejelekannya dengan kebaikan. Adapun dosa mereka yang menyebarkan aib tersebut, adalah kezaliman terhadap orang-orang yang beriman dan mencari-cari aib mereka serta sengaja ingin mempermalukan mereka. Wal’iyadzu billahi.
Apabila syaitan tidak mampu menjatuhkan seorang manusia melalui jalur ini, dia akan beralih kepada yang berikutnya Pintu yang keempat, yaitu dosa-dosa kecil (shaghair) dan sering diremehkan. Syaitan berusaha membuat dosa itu mudah dilakukan dan menggiring hamba itu agar terbiasa melakukan dosa-dosa kecil, hingga manusia itu memandang ringan perbuatannya.
Andaikata syaitan gagal dari arah ini, dia akan beralih kepada kejahatan berikutnya, yaitu Pintu yang kelima, dia akan menyibukkan manusia itu dengan hal-hal yang bersifat mubah; yang tidak ada pahala dan siksa padanya. Padahal tidak juga demikian, karena di balik itu sebetulnya ada hukumannya, yaitu hilangnya pahala sesuatu yang disia-siakannya, karena sibuk mengerjakan perkara yang mubah tersebut. Apabila manusia itu termasuk orang yang ketat memelihara waktunya, memahami kadar dirinya, menyadari pula kenikmatan dan siksa yang ada di hadapannya sehingga menjaga diri dari urusan yang mubah tersebut, syaitan berpindah kepada yang berikutnya.
Pintu yang keenam, yaitu menyibukkan manusia itu dengan amalan yang sifatnya kurang bernilai, hingga menyia-nyiakan amalan yang lebih utama. Syaitan mendorongnya dan membuatnya memandang indah mengerjakan kebaikan yang kurang bernilai. Tidak hanya itu, syaitan justru menyemangatinya, apabila dengan mengerjakan kebaikan itu ada amalan lain yang lebih bernilai menjadi terlantar atau ditinggalkan. Kenyataan ini sangat sedikit yang menyadarinya, karena dia mengira kebaikan yang dikerjakannya tidak mungkin atas perintah syaitan. Syaitan tidak akan menyuruh kepada kebaikan, sehingga sudah tentu menurut pikirannya- kebaikan ini adalah taufik dari Allah Ta’ala. Inilah salah satu kelemahannya, dan dia dimaafkan, karena ilmunya belum sampai kepada tingkatan ini. Dia tidak menyadari bahwa syaitan membuka tujuhpuluh pintu kebaikan untuk dua tujuan; bisa jadi melalui pintu itu, syaitan ingin menjerumuskan seorang manusia ke dalam satu kejahatan, atau yang kedua, melalui tujuhpuluh kebaikan tersebut, manusia itu justru kehilangan pahala yang jauh lebih besar dan lebih utama daripada tujuhpuluh kebaikan tersebut.
Apabila syaitan gagal menghancurkan manusia melalui enam pintu kejelekan ini, dia akan mengerahkan pasukannya dari kalangan jin dan manusia untuk menyakiti dan mengganggu manusia tersebut. Dia akan menghasung tentaranya menyebarkan isu bahwa orang itu kafir, sesat, membuat perpecahan, dan upaya lain dengan tujuan nama orang itu tenggelam. Dengan cara ini dia berusaha menyibukkan hati orang tersebut agar menyiapkan diri untuk memerangi syaitan, dan itu sekaligus mencegah orang lain mengambil manfaat dari ilmunya. Dengan demikian, selama hidupnya seorang mukmin tidak pernah meletakkan senjatanya sekejap matapun menghadapi syaitan dan bala tentaranya, sampai dia berjumpa dengan Allah Ta’ala. Akhirnya, setiap saat dengan berbekal keyakinan, dia harus berjihad melawan badai syubhat yang ditiupkan oleh syaitan. Setiap saat pula dia harus bertahan menangkis gelombang syahwat yang dibisikkan syaitan dengan kesabaran.
Demikian hebatnya upaya syaitan untuk menyeret manusia agar menyertainya dalam kehinaan abadi di neraka. Karena itulah, Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa mengingatkan manusia kejahatan syaitan tersebut. Allah Ta’ala berfirman (An Nuur 21):
 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَوْلَا فَضْلُ اللهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَى مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”
Lantas, senjata apa yang harus digunakannya untuk membela diri dan menghalau musuhnya yang satu ini? Yang paling utama tentu saja adalah berpegang teguh dengan Kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya, di atas manhaj salaf radhiyallahu ‘anhum. Menerapkan kandungannya sekuat tenaga dalam kehidupan, lahir dan batin. Yang kedua, jangan lalai dari dzikrullah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpamakan zikir ini seperti seseorang yang dikejar musuhnya, lalu dia masuk ke dalam sebuah benteng yang kokoh dan kuat. Benteng itu adalah dzikrullah (berzikir kepada Allah). Allah Ta’ala juga berfirman (Ar Ra’du 28):
 الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”
 Yang ketiga ialah taubat dan istighfar.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 قَالَ إِبْلِيْسُ وَعِزَّتِكَ لَا أَبْرَحُ أُغْوِي عِبَادَكَ مَا دَامَتْ أَرْوَاحُهُم فِي أَجْسَادِهِمْ فَقَالَ وَعِزَّتِـي وَجَلَالِـي لَا أَزَالُ أَغْفِرُ لَـهُم مَا اسْتَغْفِرُوءنِـي.
“Iblis berkata,”Demi Kemuliaan-Mu, aku tidak akan berhenti menyesatkan para hamba-Mu selama nyawa masih di jasad mereka.” Allah berfirman,”Demi Kemuliaan dan Keagungan-Ku, Aku akan selalu memberi ampunan kepada mereka selama mereka meminta ampunan kepada-Ku.”
Wallahul Muwaffiq
Insya Allah Bersambung
http://forumsalafy.net/?p=2578

Tidak ada komentar: