Artikel Terkini
recent

HARUSKAH-KITA-BERBEDA



 بسم الله الرجمن الرحيم

Haruskah Kita Berbeda



Oleh : Ahmad Ibrahim Ar Riani
Sebuah pertanyaan cukup rasional kembali terlontar kepada penulis, kenapa kaum muslimin berselisih dan berbeda pandangan dalam kehidupan beragama dan kontak sosial diantara mereka, padahal agama kita, kitab kita, Nabi kita, kiblat kita dan Rabb kita adalah satu, kemudian bagaimana kita menyikapi perbedaan sudut pandang tersebut. Penulis melihat, ini adalah pertanyaan yang sangat logis, melihat kenyataan yang terjadi dalam kehidupan komunitas muslim di berbagai negeri sepeninggal Rasulullah .Akhirnya kembali penulis berusaha merangkai kata menyusun beberapa paragraf tuk menjawab pertanyaan diatas dengan harapan, Allah Ta’ala memberikan manfaat dengannya bagi setiap pembaca yang menginginkan kebenaran.
            Memang benar, seharusnya umat islam adalah komunitas atau tatanan masyarakat sosial yang jauh dari perselisihan dan perbedaan berdasarkan alasan diatas, hal ini sebagaimana difirmankan oleh Allah Ta’ala

92. Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu[971] dan aku adalah Tuhanmu, Maka sembahlah aku. (Al Anbiya : 92)
[971] Maksudnya: sama dalam pokok-pokok kepercayaan dan pokok-pokok Syari'at.

103. dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (Ali Imran : 103)

Nah, demikian firman Allah dan perintahNya kepada umat islam. Bila kita memperhatikan setiap perbedaan dengan seksama secara keseluruhan, akan kita dapati bahwa sebab perselisihan itu kembali kepada manusia bukan kembali kepada nash-nash Qur’an dan Sunnah Muhammad , Allah Ta’ala berfirman dalam KitabNya
š
14. dan diantara orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya Kami ini orang-orang Nasrani", ada yang telah Kami ambil Perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya; Maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang mereka kerjakan. (Al Maidah : 14)
Para ulama menggeneralisir perbedaan sudut pandang manusia ketika memahami syariat islamiyah kedalam tiga kemungkinan,
1.      Dua sudut pandang yang saling berbeda tersebut sama-sama salah dan kebenaran itu bersama pendapat selain keduanya. Contohnya, perbedaan Yahudi dan Nashara pada permasalahan Isa Ibnu Maryam dan Ibunya, dimana umat Yahudi menuduh Maryam adalah seorang pezina dan meyakini Nabiullah Isa adalah anak zina bukan seorang Nabi yang diutus, sedangkan umat Nashara dengan sifat ghuluwnya meyakini Isa bin Maryam dan Ibunya adalah dua tuhan yang disembah selain Allah Ta’ala, itulah dua sudut pandang yang berbeda, namun kebenaran itu tidak berada pada salah satu dari keduanya bahkan kebenarann dalam permasalahan ini sesuai dengan apa yang diyakini oleh umat islam.
2.      Dua sudut pandang yang saling berbeda tersebut sama-sama benarnya. Contohnya, perbedaan sebagian ahli tafsir ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala diatas,
و اعتصموا بحبل الله
Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa حبل الله  disini adalah Al Qur’an, sebagian lainnya berpendapat ia adalah islam. Nah kedua pendapat inisama benarnya, karena Al Qur’an itulah islam yang sesungguhnya dan hakekat islam adalah berpegang dengan Al Qur’an yang diturunkan kepada Muhammad Saw
Kebenaran berada pada salah satu dari dua pendapat yang saling berbeda tersebut, bukan pada selainnya.Ini merupakan kemungkinan yang sangat panjang pembahasanny dan mengharuskan seseorang untuk bersikap obyektif saat dihadapkan dengan pendapat-pendapat yang saling kontradiktif ini.Para ulama telah menjelaskan permasalahan ini dalam beberapa kitab mereka, seperti Ibnu Taimiyah dalam Kitab Iqtidha Shiratal Mustaqim dan Asy Asyathiby dalam Al ‘Ithisham. Ringkasnya perbedaan sudut pandang  bisa berbentuk perbedaan sudut pandang dalam permasalahan ijtihad ketika memahami nash-nash syariat, contohnya perbedaan yang terjadi pada permasalahan Qiraah basmalah (bacaan bismillah dalam shalat), sebagian ahli fiqih berpendapat bahwa bismillah tidak dikeraskan dalam bacaan shalat, sebagian ahli fiqih lainnya berpendapat bahwa bismillah dikeraskan dalam bacaan shalat. Berkata Syaikhul islam Ibnu Taimiyah : perbedaan yang terjadi pada bab ini, hanyalah perbedaan tentang afdhaliyah (mana yang lebih baik) dan mereka bersepakat bahwa basmalah itu dibaca dalam Shalat. Nah ketika permasalahan ini kembali kepada bab ijtihad, maka dikatakan, meskipun yang benar adalah satu pendapat saja, akan tetapi pintu kompromi dan toleransi dalam permasalahan seperti ini sangat diterima dan terbuka, karena itu adalah permasalahan ijtihad yang dilakukan oleh masing-masing ahli pada cabang ilmu tertentu dan ulama islam.

Bentuk yang kedua,perselisihan sudut pandang yang tidak menerima kata tawar dengan istilah lain, salah satu dari kedua yang berselisih tersebut harus kembali kepada kebenaran yang telah diselisihinya. Contohnya, perbedaan pendapat yang terjadi pada bab RIBA, sebagian besar kaum muslimin menganggap bahwa riba itu haram sesuai dengan firman Allah Ta’ala dalam surat Baqarah dan Sabda Rasulullah Saw dalam beberapa haditsnya sebagian lainnya menganggap ia adalah halal, boleh-boleh saja, dengan berbagai alasan dan sekian bentuk uzur yang dikemukakan oleh mereka yang membolehkannya.
Contoh lain, perselisihan sudut pandang dalam permasalahan syirik dengan tauhid, jilbab muslimah ataukah tidak, bid’ah dengan sunnah dan selainnya dalam perkara syariat islam. Nah, perselisihan sudut pandang dalam perkara-perkara diatas dan semisalnya, tidak mengenal yang namanya kata kompromi, kenapa ? jawabannya, karena perkara-perkara seperti ini berkaitan dengan syariat halal dan haram, ancaman azab dan janji baik (surga atau neraka) dari Allah Ta’ala bagi mereka yang melanggar atau taat dalam permasalahan diatas, dimana nash-nash Qur’an dan Sunnah telah menjelaskan perkara-perkara tersebut dengan jelas dan gamblang, atau merupakan kesepakatan ulama islam atau telah dijelaskan oleh Sahabat, Tabiin atau Tabiut Tabiin. Pembaca sekalian sebelum penulis mengakhiri tulisan ini, ada beberapa pertanyaan yang ingin penulis letakan bagi pembaca yang budiman dan penulis memberikan kesempatan bagi pembaca untuk menjawab sendiri, dengan jawaban yang obyektif lagi rasional,
Bukankah Rasulullah  diutus pada semua komunitas yang sangat berbeda dan menentang ajaran Allah Ta’ala ?
Bukankah dengannya  Allah Ta’ala membedakan antara kebenaran dan kebatilan
Bukankah salah satu nama Al Qura’an adalah Furqan (pembeda) ?
Haruskah seorang muslim mengorbankan perintah Allah dan RasulNya karena perintah itu berbeda dengan keadaan dan kondisi masyarakatnya ?
Ataukah kehidupan seorang muslim hendaklah mengikuti arus kebudayaan sekalipun itu menyelisihi Al Qur’an dan Sunnah ?
Ataukah Ia harus berpegang dengan Al Qur’an dan Sunnah dan bersabar diatas agama ini sampai dia menghadap sang Ilahy, Rabbnya yang telah menciptakannya dan kepadaNya tempat kembali, kemudian ditanya tentang amalan-amalannya di dunia, sekalipun konsekwensi dari sikap ini adalah cemohan dan celaan dari sebagian kaum muslimin sendiri yang tidak memahami islam dan sunnah sebagaimana mestinya
Bayangkan jika anda berdiri dihadapan Allah Ta’ala pada pengadilan di hari kiamat nanti dan dikatakan kepada engkau “bukankah telah datang kepadamu RasulKu, kemudian engkau tinggalkan sunnah dan  wejangannya dikarenakan takut dengan sesama makhluk padahal Aku (Allah) telah berfirman,


63. Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur- angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (An Nur : 63)


7.apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya. (Al Hasyr : 7)

30. pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya. dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.
31. Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Ali Imran : 30-31)
Demikian penjelasan ringkas berkaitan dengan perbedaan sudut pandang terhadap nash-nash syariat islam. Mungkin pembaca akan bertanya, gimana caranya kita menilai kebenaran jika terjadi perbedaan diantara sudut pandang ?jawabannya, pertama dengan mengkaji ilmu agama islam dengan benar melalui didikan ulama islam dan sunnah. Kedua melihat dan mengikuti pendapat shahabat, Tabiin dan Tabiut Tabiin atau ulama islm setelah mereka, ketiga berdoa kepada Allah Ta’ala agar ditunjukan kebenaran pada setiap permasalahan ilmiah yang dihadapi. Setelah ini, bagi orang yang mengenal kebenaran seharusnya ia bersabar dalam mendakwahkan dan menjelaskan kebenaran itu kepada selainnya.

17. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).  (Luqman : 17).

Tidak ada komentar: